WASPADA LEPTOSPIROSIS

Kasus leptospirosis secara berturut-dalam lima tahun terakhir selalu ditemukan di Gunungkidul. Awal tahun 2019 ini, telah dilaporkan adanya 2 kasus yang diduga leptospirosis. Tim surveilans Dinas Kesehatan Gunungkidul bersama petugas Puskesmas Ponjong I dan Gedangsari telah melaksanakan Penyelidikan Epidemiologi (PE) kasus leptospirosis. Berdasarkan hasil PE didapatkan informasi bahwa satu orang mengalami keterlambatan dalam memperoleh tindakan medis yang pada akhirnya meninggal dunia.

Penyakit Leptospirosis walaupun sudah sering terjadi namun masih banyak juga warga yang kurang memperhatikan gejala dan faktor risiko terjadinya penyakit ini.

Penularan terjadi melalui kontak pada kulit, khususnya apabila terluka, atau kontak selaput lendir dengan air, tanah basah atau tanaman yang terkontaminasi dengan urin hewan yang terinfeksi.

Tanda dan gejala awal dugaan leptospirosis antara lain demam yang timbul dengan onset tiba-tiba, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, tampak lemah. Apabila gejala ini muncul yang didahului dengan adanya riwayat kontak dengan air maka perlu waspada terhadap kemungkinan leptospirosis.

Penegakan diagnosis dapat dilakukan dengan cepat menggunakan Rapid Test Diagnosis Lepto.  Petugas Puskesmas maupun layanan kesehatan swasta lainnya dapat mengajukan permintaan Rapid Test Lepto ke Dinkes Gunungkidul, apabila menemukan pasien yang dicurigai leptospirosis.

Beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan untuk pencegahan terhadap leptospirosis daintaranya:

  • Budayakan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) dilingkungan rumah masing-masing.
  • Para petani dianjurkan berangkat ke sawah matahari terbit karena bakteri akan mati jika terkena sinar matahari.
  • Berhati-hati jika ada luka atau jaringan terbuka saat bekerja di sawah, segera dibersihkan &
  • Gunakan alat pelindung diri (APD)
  • Ali Mashudi
    editir hadiyasa

    212total visits,2visits today