Virus Corona atau COVID-19 mencapai 90.933 kasus secara global pada Selasa (3/3/2020) pukul 10.43 WIB, menurut data Coronavirus COVID-19 Global Cases by Johns Hopkins CSSE. Jumlah korban meninggal akibat virus Corona sebanyak 3.117 dan yang berhasil pulih sebanyak 47.995 orang. Virus COVID-19 terus menyebar ke seluruh dunia, juga dibarengi dengan informasi yang salah. Terdapat banyak kesalahpahaman masyarakat terkait virus ini. Berikut adalah mitos dan fakta Coronavirus yang perlu diketahui:

 

Mitos: Pengering tangan efektif untuk membunuh virus COVID-19

Faktanya, pengering tangan tidak efektif dalam membunuh virus Corona terbaru tersebut. untuk melindungi dari virus tersebut, disarankan agar Anda sering membersihkan tangan dengan sabun dan air. Namun, Anda juga dapat menggunakan hand pembesih tangan yang mengandung alkohol. Setelahnya, keringkan dengan tisu atau pengering tangan. Mencuci tangan dengan sabun secara teratur ini dapat meminimalisir risiko masuknya virus ke dalam tubuh, bukan pengering tangan.

 

Mitos: Lampu desinfeksi ultraviolet (UV) dapat membunuh virus Corona COVID-19

Beberapa rumah sakit memang menggunakan lampu ini untuk membunuh mikroba pada alat-alat kesehatan seperti di ruang operasi atau di laboratorium. Namun, WHO tidak menyarankan bagi Anda menggunakan lampu UV untuk mensterilkan tangan atau area kulit lainnya karena radiasi sinar UV dapat menyebabkan kulit menjadi iritasi.

 

Mitos: Pemindai suhu atau thermal detector efektif dalam mendeteksi orang yang terinfeksi COVID-19

Alat ini hanya bisa mendeteksi orang dengan virus Corona yang mengalami gejala demam. Pasalnya, pemindai suhu tersebut bekerja untuk mendeteksi adanya perbedaan suhu. Orang yang memiliki suhu tubuh lebih tinggi dari normal karena infeksi virus ini dapat terdeteksi. Sebaliknya, pendeteksi suhu tidak dapat mendeteksi orang yang terinfeksi tetapi belum sakit demam. Dilansir dari CDC, dibutuhkan antara 2 hingga 14 hari sebelum orang yang terinfeksi menjadi sakit dan mengalami demam.

 

Mitos: Menyemprotkan alkohol atau klorin ke seluruh tubuh dapat membunuh virus COVID-19

Faktanya, menyemprotkan alkohol atau klorin ke seluruh tubuh Anda tidak akan membunuh virus yang telah memasuki tubuh Anda. Menyemprotkan zat-zat semacam itu bisa berbahaya bagi pakaian atau selaput lendir tubuh seperti mata dan mulut. Ketahuilah bahwa alkohol dan klorin dapat berguna untuk mendisinfeksi permukaan, tetapi perlu digunakan di bawah rekomendasi yang tepat.

 

Mitos: Tidak aman menerima surat atau paket dari Cina

Hal ini tidak benar. Faktanya, orang yang menerima paket dari Cina tidak berisiko tertular virus Corona. Dari analisis sebelumnya, Coronavirus tidak akan bertahan lama pada objek, seperti surat atau paket menurut WHO.

 

Mitos: Hewan peliharaan di rumah dapat menyebarkan COVID-19

Hingga saat ini, tidak ada bukti bahwa hewan peliharaan seperti anjing atau kucing dapat terinfeksi virus Corona atau COVID-19 ini. Namun, wajib mencuci tangan dengan sabun dan air setelah kontak dengan hewan peliharaan. Ini melindungi Anda terhadap berbagai bakteri umum seperti E.coli dan Salmonella yang dapat berpindah di antara hewan peliharaan dan manusia.

 

Mitos: Vaksin pneumonia dapat melindungi dari virus COVID-19

Meski keduanya merupakan penyakit pada sistem pernapasan, faktanya vaksin pneumonia, seperti vaksin pneumokokus dan vaksin Haemophilus influenza tipe B (Hib), tidak memberikan perlindungan terhadap virus Corona baru. Virus COVID-19 adalah virus baru dan berbeda sehingga membutuhkan vaksin sendiri. Namun, vaksinasi terhadap penyakit pernapasan sangat dianjurkan untuk melindungi kesehatan Anda.

 

Mitos: Secara rutin membilas hidung dengan saline membantu mencegah infeksi COVID-19

Tidak ada bukti bahwa mencuci hidung dengan saline secara teratur akan melindungi orang dari infeksi virus Corona. Saline merupakan cairan larutan garam dan air yang digunakan pada perawatan kesehatan dilansir dari Medicine Net. Hanya ada beberapa bukti bahwa mencuci hidung dengan saline secara teratur dapat membantu orang pulih lebih cepat dari flu biasa. Namun, membilas hidung secara teratur belum terbukti mencegah infeksi pernapasan.

 

Mitos: Makan bawang putih membantu mencegah infeksi COVID-19

Bawang putih adalah makanan sehat yang mungkin memiliki beberapa sifat antimikroba. Namun, tidak ada bukti dari wabah saat ini bahwa makan bawang putih telah melindungi orang dari virus Corona terbaru tersebut.

 

Mitos: Memakai minyak wijen dapat menghalangi COVID-19 memasuki tubuh

Faktanya, minyak wijen tidak membunuh virus Corona tersebut. Ada beberapa disinfektan kimia yang dapat membunuh COVID-19 di permukaan kulit tubuh, termasuk desinfektan berbasis pemutih atau klorin, baik pelarut, etanol 75 persen, asam perasetat dan kloroform. Namun, cairan-cairan tersebut memiliki sedikit dampak pada virus jika Anda menaruhnya di kulit atau di bawah hidung Anda ketika virus telah memasuki tubuh. Selain itu, bisa berbahaya jika menaruh bahan kimia ini di kulit Anda.

 

Mitos: COVID-19 memengaruhi orang yang lebih tua

Faktanya, orang-orang dari segala usia dapat terinfeksi oleh COVID-19. Orang yang lebih tua, dan orang-orang dengan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya seperti asma, diabetes, dan penyakit jantung, tampaknya lebih rentan untuk menjadi sakit parah dengan virus. WHO menyarankan orang-orang dari segala usia untuk mengambil langkah-langkah melindungi diri dari virus, misalnya dengan mengikuti kebersihan tangan yang baik dan kebersihan pernapasan yang baik

 

Mitos: Antibiotik efektif dalam mencegah dan mengobati COVID-19

Antibiotik tidak bekerja melawan virus, melainkan hanya bakteri. COVID-19 adalah virus dan oleh karena itu, antibiotik tidak boleh digunakan sebagai sarana pencegahan atau pengobatan. Namun, jika Anda dirawat di rumah sakit sebab virus Corona tersebut, Anda mungkin menerima antibiotik karena koinfeksi bakteri mungkin terjadi.

 

Mitos: Tidak ada obat khusus untuk mencegah dan mengobati paparan virus COVID-19

Sampai saat ini, tidak ada obat khusus yang disarankan untuk mencegah atau mengobati virus Corona baru atau COVID-19. Namun, mereka yang terinfeksi virus harus menerima perawatan yang tepat untuk meredakan dan mengobati gejala. Selain itu, mereka yang sakit parah harus mendapatkan perawatan suportif yang dioptimalkan.

 

Mitos: Minum alkohol dapat menyembuhkan Coronavirus

Kabar ini cukup populer mengingat nama Coronavirus sering dihubungkan dengan merek minuman beralkohol. Padahal, virus dan minuman beralkohol ini tidak memiliki keterkaitan sama sekali.

Fakta: Fakta tersebut didukung oleh pernyataan dari Susan Philip, direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dari Depkes San Fransisco. Menurutnya, penyembuhan atau penyebab Coronavirus tidak berhubungan dengan konsumsi alkohol.

Faktanya, alkohol dapat membunuh bakteri dan virus, tetapi ketika digunakan dalam bentuk hand sanitizer atau sabun antiseptik. Penggunaan hand sanitizer yang mengandung 60% alkohol untuk mencuci tangan dapat membantu mencegah infeksi Coronavirus.

Maka itu, pemahaman mitos bahwa minum minuman beralkohol dapat menyembuhkan atau menjadi penyebab Coronavirus perlu diluruskan.

 

Mitos: Dapat menular melalui pandangan mata

Pernahkah Anda mendengar kabar atau mitos mengenai penularan Coronavirus dapat terjadi melalui pandangan mata? Jika iya, Anda tidak perlu khawatir karena kabar tersebut tidak benar sama sekali.

Fakta: seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, penyebaran Coronavirus kemungkinan besar berasal dari tetesan pernapasan ketika pengidapnya batuk atau bersin. Apabila Anda berada dalam jarak penularan virus, yaitu sekitar dua meter, risikonya pun semakin tinggi.

Penularan Coronavirus melalui pandangan mata memang belum terbukti benar. Namun, risiko yang cukup besar dapat terjadi ketika tangan yang belum dicuci oleh sabun dan air sering digosokkan ke mata Anda.

Oleh karena itu, para ahli sangat menyarankan untuk selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang suatu benda. Selain itu, Anda juga tidak direkomendasikan memegang bagian mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang kotor.

 

Mitos: Virus corona sengaja dibuat oleh sekelompok orang untuk tujuan tertentu

Fakta: Virus sejatinya dapat berubah karakter seiring waktu. Terkadang, beberapa wabah penyakit banyak terjadi ketika virus yang berasal dari hewan, seperti burung, kelelawar, babi, ular, pindah ke manusia. Hal ini yang mungkin terjadi pula pada penyebaran virus corona.

 

Mitos: Pakai masker dapat melindungi diri dari penularan virus Corona secara efektif

Fakta: World Health Organization merekomendasikan orang-orang tanpa gejala gangguan pernapasan, seperti batuk dan bersin, tidak perlu menggunakan masker.

Sebaiknya, masker diutamakan bagi para pasien COVID-19 dan keluarga yang mengurus pasien, serta para tenaga medis yang merawat pasien.

Masker merupakan alat pelindung diri yang sangat penting bagi mereka. Pada orang yang dalam kondisi sehat, penggunaan masker perlu dibatasi agar persediaan masker di fasilitas kesehatan dan bagi orang-orang yang benar-benar membutuhkan, tidak menipis.

 

Mitos: Ada obat khusus yang bisa mencegah atau mengobati virus Corona

Fakta: Sampai saat ini, belum ada obat khusus yang disarankan untuk mencegah atau mengobati virus Corona baru. Bagi mereka yang terinfeksi COVID-19 harus menerima perawatan intensif yang tepat di rumah sakit guna meredakan dan mengobati gejala penyakit.

 

Mitos: Konsumsi minuman herbal yang terbuat dari temulawak, kunyit, dan lain sebagainya dapat mencegah penularan COVID-19

Fakta: Memang benar bahwa temulawak dan kunyit memiliki kandungan antivirus yang dapat membantu menangkal atau melawan virus yang menyerang tubuh. Kendati demikian, bukan berarti semua jenis virus, termasuk virus Corona, dapat hilang dengan mengonsumsi temulawak dan kunyit.

Maka dari itu, masih diperlukan penelitian lebih lanjut guna mencegah penularan COVID-10 melalui konsumsi temulawak dan kunyit. Pasalnya, hingga saat ini belum ada vaksin khusus untuk mengobati kasus COVID-19.

 

Mitos: Tidak dibolehkan untuk mengunjungi negara yang sedang outbreak

Fakta: Sebenarnya, tidak ada peraturan yang melarang seseorang untuk mengunjungi negara yang sedang terkena wabah. Misalnya, sekarang sedang heboh pneumonia akibat virus Corona di Cina sehingga orang tidak boleh ke sana. Hal ini tidak benar karena siapa pun bisa ke sana, namun dengan catatan lebih berhati-hati agar tidak mengidap penyakit serupa.

dr. Dwi Rany W.

7 thoughts on “Virus Corona COVID-19 Antara Mitos dan Fakta”

Leave a Reply

Your email address will not be published.