RUMAH RISET JAMU “HORTUS MEDIKUS” INSPIRASI LAYANAN KOMPLEMENTER DI PUSKESMAS

Pengobatan komplementer adalah cara penatalaksanaan atau pengobatan berbagai penyakit yang dilakukan sebagai pendukung ataupun sebagai pengobatan pilihan lain dari pengobatan medis konvensional. Meskipun tidak persis betul, pengobatan komplementer sering diartikan pengobatan alternatif atau pengobatan tradisional. Beberapa cara pengobatan komplementer yang ada di Indonesia antara lain akupunktur, akupresur, siropraktor, penggunaan herbal atau jamu dan lain-lain. Di Indonesia Kementerian Kesehatan sudah membuka peluang bagi fasilitas pelayanan kesehatan konvensional seperti Puskesmas dan Rumah Sakit untuk mengintegrasikan pelayanan komplementer tersebut. Berbagai regulasipun sudah tersedia walaupun masih ada pihak yang belum bisa menerima keberadaan layanan ini.

Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul sangat tertarik akan keterpaduan layanan konvensional dan komplementer tersebut. Beberapa tahun terakhir ini tenaga kesehatan di beberapa Puskesmas  seperti dokter dan paramedis sudah dilatih akupunktur, akupresur dan saintifikasi jamu. Namun Puskesmas belum dapat membuka layanan ini dikarenakan harus mempersiapkan lebih dulu berbagai sarana prasarana dan regulasinya di tingkat Kabupaten. Di tingkat masyarakat sudah pula dibina kelompok-kelompok Asuhan Mandiri Taman Obat Keluarga (ASMAN TOGA) dengan tujuan memasyarakatkan kembali penggunaan cara-cara pengobatan tradisional.

Untuk mendapat wawasan lebih mendalam tentang salah satu pengobatan komplementer yaitu saintifikasi jamu, Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul melaksanakan kunjungan ke Rumah Riset Jamu Hortus Medikus milik Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Balitbangkes Kementerian Kesehatan di Tawangmangu Jawa Tengah pada tanggal 13 Agustus 2019. Kunjungan ini dipimpin langsung Kepala Dinas Kesehatan, dr. Dewi Irawaty M. Kes didampingi Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan, dr. sumitro M. Sc dan Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar dan Tradisional, drg. Endang Ertin beserta seluruh Kepala Puskesmas se Kabupaten Gunungkidul. Rombongan disambut oleh dr. Fajar Novianto dan bapak Edwin, Kasubag Tata usaha. Pada kesempatan itu Kepala Dinas berharap ada tindak lanjut dari Puskesmas untuk membuka layanan saintifikasi jamu dan di setiap Puskesmas memiliki taman yang berisi tanaman obat.

Di ketinggian lebih kurang 1200 m di atas permukaan laut keadaan yang sangat cocok tumbuhnya berbagai jenis tanaman obat. B2P2TOOT memiliki lahan seluas 18 Ha dengan 27 ribuan spesies tanaman obat. Di B2P2TOOT ada 4 program besar yang utama yaitu Penelitian, Pelayanan, Pelatihan dan Wisata ilmiah. Untuk mendukung keempat program tersebut terdapat beberapa fasilitas yang cukup lengkap antara lain rumah riset jamu, laboratorium untuk penelitian, klinik untuk pelayanan pasien, museum dan koperasi yang menjual obat-obat hasil produksinya. Fasilitas ini memiliki 8 orang dokter yang bertugas melayani pasien dan juga sebagai peneliti, apoteker, asisten apoteker, perawat, analis dan nutrisian. Semua tanaman obat yang ada di tempat ini harus melalui berbagai uji baik preklinik maupun uji klinik untuk menghasilkan obat tradisional yang berkhasiat, bermutu dan aman dikonsumsi. Terlihat animo masyarakat sangat besar baik di sekitar klinik ataupun dari luar daerah terhadap Klinik di B2P2TOOT ini. Setiap hari dikunjungi sedikitnya 150 pasien dari mulai keluhan ringan sampai penyakit yang berat.

Di akhir kunjungannya rombongan diajak mengitari kebun atau lahan yang berisi berbagai tanaman obat yang bisa ditanam di Kabupaten Gunungkidul.

327total visits,1visits today