Upaya kesehatan jiwa adalah setiap kegiatan untuk mewujudkan derajat kesehatan jiwa yang optimal bagi setiap individu, keluarga dan masyarakat dengan  pendekatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative yang diselenggarakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan oleh pemerintah, Pemerintah Daerah dan/atau masyarakat (UU 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa).

Dalam rangka meningkatkan peran dan fungsi Kader Kesehatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul melaksanakan pelatihan kesehatan jiwa bagi Kader Kesehatan. Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 hari dari tanggal 30 – 31 Mei 2022. Bertempat di Ruang Rapat BKAD Gunungkidul, pelatihan dibuka oleh Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan, Sidig Hery Sukoco, SKM, MPH. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa penanggulangan masalah kesehatan jiwa menjadi tanggung jawab bersama, seluruh komponen masyarakat dan melibatkan peran aktif dari berbagai sektor. Kader kesehatan sebagai penggerak di masyarakat diharapkan memiliki komitmen dan kemampuan untuk melakukan deteksi dini gangguan jiwa, melakukan pendampingan pada penderita gangguan jiwa dan keluarganya, melakukan rujukan bila diperlukan serta melakukan upaya pemulihan di masyarakat.

Hadir sebagai narasumber pada pelatihan ini Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM), tim dari RS Ghrasia Yogyakarta dan narasumber dari DPMKP2KB Kabupaten Gunungkidul, dengan serangkaian materi mengenai kesehatan jiwa secara umum, penguatan ketahanan jiwa keluarga, deteksi dini gangguan jiwa, pertolongan pertama gangguan psikologis, dan pengelolaan penderita gangguan jiwa berat (ODGJ).

Kegiatan ini diharapkan memberikan daya ungkit pada upaya pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan jiwa di Kabupaten Gunungkidul. Memperhatikan situasi kesehatan jiwa yang ada di DIY dan khususnya di Kabupaten Gunungkidul menjadi sangat perlu dilakukan peningkatan pengetahuan bagi Kader Kesehatan tentang kesehatan jiwa, dimana data menunjukkan bahwa di Kabupaten Gunungkidul, tahun 2021 terdapat 1644 individu terdiagnosa gangguan jiwa berat (ODGJ), angka ini menunjukkan sedikit penurunan dari tahun 2020 sebanyak 1793 ODGJ. Namun begitu angka bunuh diri dengan gantung diri menunjukkan angka yang cukup tinggi di tahun 2021 yaitu sebanyak 37 kasus, naik dibanding tahun 2020 sebanyak 22 kasus. Fakta ini tentunya bukan hal yang bisa diabaikan oleh Pemerintah mengingat kesehatan jiwa merupakan masalah kesehatan yang serius dan butuh penanganan yang panjang serta keterlibatan banyak pihak.