KULINER SEHAT MENUNJANG DAYA TARIK PARIWISATA

Bisnis atau usaha rumah tangga pangan yang merupakan Usaha Kecil Menengah (UKM) semakin berkembang dan menjadi salah satu penunjang perekonomian nasional Indonesia. Hal ini terbukti dengan banyaknya produk makanan olahan dan siap saji yang beredar di masyarakat, baik dari pengusaha kecil dan menengah termasuk pelaku usaha rumah tangga pangan.

Pada kenyataannya ditemukan makanan olahan di masyarakat yang mengandung bahan-bahan berbahaya yang dapat merugikan kesehatan masyarakat. Demikian pula di Kabupaten Gunungkidul, dengan semakin meningkatnya kunjungan wisata perlu didukung dengan kuliner makanan olahan dan siap saji yang terjamin mutu dan keamananya sebagai buah tangan / oleh-oleh.

Untuk mendukung para pelaku usaha pangan rumah tangga makanan Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul pada tanggal 20-21 Agustus 2019 menyelenggarakan Pelatihan Keamanan Pangan (PKP) dalam rangka penerbitan Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SP-PIRT). Pada pelatihan ini, peserta mendapatkan pengetahuan cara mengolah makanan yang baik, syarat-syarat makanan sehat, bahan tambahan pangan yang aman dan lain-lain. Untuk mendapatkan SP-PIRT, para pelaku usaha harus lulus Pelatihan Keamanan Pangan ini. Selanjutnya dilakukan kunjungan ke lokasi produksi untuk melihat apakah semua syarat-syarat sudah terpenuhi sesuai Peraturan Badan Pengawasan Obat dan Makanan No. 22 Tahun 2018 tentang tata cara pemberian sertifikat PIRT.

Kemudian  juga dihimbau bagi pelaku usaha untuk secara berkala memeriksakan air yang digunakan untuk produksi minimal 2 kali dalam 1 tahun di UPT Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul.

Selain para narasumber dari Dinas Kesehatan dalam kesempatan itu hadir pula Bu Hirto, yaitu salah satu pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) yang sukses dengan produk Olahan Ikan Tuna. Beliau membagikan pengalamanya, kiat-kiat bisnis dan juga tentang perizinan makanan yang beliau lakukan untuk menunjang produk yang dihasilkan.

Pelatihan ini sangat menarik minat para peserta. Diskusi berjalan sangat baik dengan banyaknya pertanyaan dan masukan dari peserta.

Dinas Kesehatan mengadakan pelatihan ini 2 kali dalam setahun namun jika ada kelompok masyarakat yang menginginkan diluar itu, dapat difasilitasi.

533total visits,1visits today