Kabupaten Gunungkidul memiliki 9 (sembilan) layanan Perawatan Dukungan dan Pengobatan (PDP) HIV AIDS yang sudah berjalan, selanjutnya tahun 2022 ini ada 4 fasilitas kesehatan lagi yang akan mengikuti pelatihan. Diharapkan dapat sebagai perluasan layanan PDP agar menjangkau semua pasien yang ada di wilayah Kabupaten Gunungkidul.

Kamis 9 Juni 2022 bertempat di Salsari Resto & Coffee dilakukan Pertemuan SUFA (Strategy Use Of ARV) untuk fasyankes Perawatan Dukungan dan Pengobatan (PDP) bagi layanan yang sudah aktivasi dan sudah melakukan pelayanan pengobatan ARV (Anti Retro Viral) yaitu diantaranya terdiri dari 10 Puskesmas, 1 RSUD dan 1 RS Swasta di wilayah Kabupaten Gunungkidul. Pertemuan tersebut diadakan bersumber dari anggaran Hibah Global Fund (GF) AIDS Tahun 2022.

Pertemuan SUFA bertujuan untuk melacak dan memvalidasi data Lost to Follow Up (LFU) pada pasien HIV AIDS yang diberikan terapi ARV. ARV adalah regimen pengobatan untuk perawatan infeksi oleh retrovirus, terutama HIV AIDS.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Zoonosis Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, dr. Yuyun Ika Pratiwi, MPH dalam sambutannya menyampaikan bahwa koordinasi ini adalah bertujuan untuk meningkatkan pelayanan sesuai standar pada ODHA dan untuk validasi pelacakan data ODHA yang Lost to Follow UP (LFU). Ketidakhadiran pasien untuk kembali ambil obat ARV ke Fasyankes harus menjadi pantauan. ODHA yang mengetahui status HIV nya dan mendapatkan pengobatan ARV dini, maka akan dapat mendorong percepatan tercapainya penurunan epidemi HIV sehingga Indonesia dapat mencapai “3 Zero” di tahun 2030 yaitu (1) tidak ada infeksi baru HIV, (2) tidak ada kematian akibat AIDS dan (3) tidak ada stigma dan diskriminasi”. Diharapkan dengan adanya Pertemuan SUFA ini, layanan Perawatan Dukungan dan Pengobatan (PDP) dan semua kasus ODHA yang Lost to Follow Up (LFU)  bisa kembali melakukan pengobatan rutin.

Narasumber dari Yayasan Victori Plus Yogyakarta Sdr. Ragil dalam materinya menyampaikan bahwa DIY masuk dalam 3 besar kasus putus obat ARV. Tantangan terbesar dalam terapi ARV adalah LFU. Salah satu alasan pasien putus obat adalah terjadi efek samping dan bosan karena harus meminum obat setiap hari selama seumur hidup. Dalam sesi diskusi membahas “Terus kalau pasien sudah LFU apa yang akan terjadi ??” yang terjadi adalah resiko penularan kepada orang lain akan lebih besar, akan timbul penyakit dan infeksi oportunity yang mudah masuk kedalam tubuh, kemudian kualitas hidup ODHA akan menurun dan akan mempercepat menuju fase AIDS. Selanjutnya untuk itu diharapkan agar Fasyankes bekerja sama dengan penjangkau dan Dinas Kesehatan kabupaten Gunungkidul agar segera melakukan pelacakan kasus untuk pasien yang putus obat.

by : Bidang P2P