Integrasi Data 3 Software Sistem Informasi Puskesmas di Gunungkidul (3)

DIARE GK 13Mohon masukannya. BerIkut adalah link (sementara) Sim Sisdinkes Gk (Bank Data Profil Kesehatan):

LINK SIMSISDINKESGK

username : admin

password : dinkesgk

Data Analyzer memuat :

1. Laporan 10 Penyakit Terbesar Kabupaten (bulan, tahun)

2. Laporan 10 Penyakit Terbesar Per Puskesmas (bulan, tahun, puskesmas)

3. Laporan Trend Penyakit Kabupaten (bulan, tahun, penyakit)

4. Laporan Trend Penyakit Per Puskemas (bulan, tahun, penyakit, puskesmas)

5. Laporan Triwulan Kabupaten (bulan, tahun)

6. Laporan Triwulan Per Puskesmas (bulan, tahun, puskesmas)

7. Laporan Berdasar Kelompok Umur Kabupaten (bulan, tahun, puskesmas, penyakit)

8. Laporan Berdasar Kelompok Umur Per Puskesmas (bulan, tahun, puskesmas, penyakit)

9. Laporan Epidemiologi Penyakit (bulan, tahun, penyakit, peta)

Dalam proses integrasi ini ada beberapa catatan yang perlu di share sebagai berikut:

1. Change Management. Setiap ada perubahan terutama regulasi (perda tarif, BPJS Kesehatan, alur rujukan, dll.) maka perlu ada pengembangan integrasi data menyesuaikan perubahan tersebut. Semakin lama adaptasi, semakin banyak ketidaksinkronan dengan kondisi terkini. Hanya saja perubahan tersebut tidak menghapus rekam jejak yang lama (monitoring, evaluasi, feed back, akuntabilitas).

2. Standar Integrasi. Untuk integrasi Kode Standar Puskesmas sangat penting sehingga harus dibuat BAKU, karena kode dari Pusdatin “rentan perubahan” karena pemekaran puskesmas, penggabungan puskesmas, perubahan status (rawat jalan, rawat inap), pemekaran wilayah (kecamatan). Penamaan kode yang tidak sama menyebabkan tidak terbacanya nama Puskesmas, dan perbedaan kode menyebabkan data tidak dikenali.

3. Keunikan. Integrasi seperti halnya “sumpah pemuda” ==> ada bahasa “pemersatu”, namun bahasa “asal/asli” hanya dikenali oleh software di masing-masing Puskesmas.

Hal-hal spesifik/unik yang hilang bisa dikenali oleh software SIMPUS di Puskesmas bersangkutan, tapi tidak di level kabupaten. Apabila simsisdinkesgk digunakan untuk even khusus seperti penilaian teladan, puskesmas plus,  akan lebih bisa terlihat dengan melihat langsung di level Puskesmas. Ini menjadi pengembangan integrasi tahap selanjutnya. Misalnya :

lokasi :

Pusling : didalamnya juga Pelayanan BP, BP non Pustu
Posyandu : didalamnya termasuk PWRI (lansia ==> laporan Lansia)
Puskesmas Induk : didalamnya termasuk Kelas DM yang dilakukan di Puskesmas Induk

jenis_pasien
Jamkessos : termasuk jamkessos mandiri
Lain : masih bercampur antara asuransi komesial, sosial non JKN (BPJS Kesehatan) dan sukarela/masyarakat

jenis_pelayanan:
KIA : termasuk pelayanan imunisasi
BP Umum : termasuk Kelas DM

4. Regulasi. Belum ada kode unik untuk Kode Rumahsakit Rujukan yang belum terakreditasi, padahal ada rujukan dari puskesmas ke fasilitas kesehatan tersebut. Adapun yang berhasil diulik adalah sebagai berikut:

Golden PMI
RS Respira Bantul (Palbang, ex BP4 Bantul)
RS Respira Jogja (Mantrijeron, ex BP4 Jogja)
RSI Cawas
RS Respira Klaten (ex BP4 Klaten)

5. Diagnosa. Standar kode diagnosa yang disepakati adalah ICD10, namun apabila dalam penulisan kodenya keliru (tipe: varchar), maka akan menyebabkan tidak terintegrasinya data. Sehigga perlu difollow up dengan pertemuan untuk matching/mapping penulisan kode ICD10 yang betul, sehingga data terintegrasi. Hal ini terjadi pada software yang memungkinkan usernya mengubah data master diagnosa, sehingga sebagai hasil kreativitas banyak muncul variasi kode diagnosis.

6. Komunikasi antara Dinkes, Puskesmas dan Vendor (programer aplikasi). Komunikasi untuk menggunakan transfer knowledge integrasi data menggunakan sms, telpon, email, web, surat, dll. Dalam prosesnya ternyata perlu kejelian untuk membaca informasi yang disampaikan seputar integrasi. Adanya perubahan antara lain :

  • jumlah kolom yang awalnya 18 menjadi 19;
  • kode-kode yang berubah setelah BPJS,
  • rancangan perubahan perda tarif layanan kesehatan di Puskesmas (JP, JS, BMHP, JT),
  • standar file integrasi (.zip dan bukan .rar),
  • dll

Hal tersebut daitas menyebabkan miskomunikasi sehingga terjadi file integrasi gagal upload. Setelah ada komunikasi langsung (kopi darat), masalah tersebut terpecahkan dan file integrasi berhasil diupload.

7. Diagnosa Null yang muncul di Top Ten Penyakit Puskesmas. Apa yang terlintas apabila hal ini terjadi? Dugaan awal adalah : software tersebut hanya digunakan di pendaftaran, namun tidak dilakukan entry kode diagnosa. Atau dientry diagnosa, tapi masih ada yang terlewat alias belum lengkap plus total terentry semua kode diagnosanya. Apabila anamnese saja yang terisi tapi kode diagnosa dari data statik koding ICDX tidak dipilih, maka muncullah Null tersebut. Software ihis diagnosa akan kosong kalau hanya dipakai di pendaftaran.

Ada yang mengambil kode ICDX tersebut dari data dinamic, sehingga mengacaukan standar (seperti terjadi pada software Simpus J).

Sebetulnya untuk menghilangkan Null dari top ten penyakit cukup mudah, yaitu dengan: diagnosa_id is not null, di laporan tidak ditampilkan data Null tadi. Namun untuk keperluan evaluasi dan follow up langkah tersebut tidak dilakukan.

Demikian pengalaman integrasi di Dinkes Gunungkidul. Reportase selanjutnya akan membahas tentang kegiatan penulisan kode ICD10 yang sesuai standar dan diinput dengan benar.

Salam

nf.

Dinkes Kab. Gunungkidul

2 Comments

  1. mau bertanya jumlah pasien tb tahun 2013 berjumlah berapa dan tahun 2014 berjumlah berapa di kiabupaten gunungkidul. terimakasih

    • Terimakasih Saudara Ucil. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, dari jumlah penduduk sebesar 726.000 jiwa diperkirakan terdapat penderita 464 Jiwa pertahun. Dengan target penemuan 70% yang ditemukan baru 34% sehingga perlu upaya yang serius untuk menanggulanginya,” ungkap Ketua Perkumpulan Pemberantas Tuberculosis Indonesia (PPTI) Eko Subiyantoro, dalam Workshop hari TBC Dunia 2014, Senin (24/3/2014) di Bangsal Sewoko Projo.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *