Gambaran Kabupaten Gunungkidul

 1.  Geografi
Kabupaten Gunungkidul, merupakan salah satu bagian wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan berada kurang lebih 40 km dari pusat ibukota Propinsi DIY. Luas wilayah Kabupaten  Gunungkidul 1.485,36 km2 atau 46,63% dari luas Propinsi DIY, yang terbagi menjadi tiga wilayah menurut kondisi tanahnya yaitu :
– Zone Batu Agung di bagian utara, jenis tanah kapur dan liat/ tanah merah, ketinggian 200-700 dpl.
– Zone Ledok Wonosari di bagian tengah, jenis tanah kapur dan liat/tanah merah, ketinggian 150-200 dpl, dan
– Zone Pegunungan Seribu di bagian selatan, jenis tanah kapur/batu muda, ketinggian 100-300 dpl.

Batas-batas wilayah Kabupaten Gunungkidul sebelah :
–  Barat dengan Kabupaten Sleman dan Bantul, DIY.
–  Utara dengan Kabupaten Klaten dan Sukoharjo, Jateng.
–  Timur dengan Kabupaten Wonogiri, Jateng.
–  Selatan dengan Samudera Hindia.

Typology wilayah Kabupaten Gunungkidul berbukit-bukit, yang banyak dikenal dengan istilah pegunungan seribu.  Pegunungan Seribu merupakan kawasan perbukitan batu  gamping  dan  bentang  karst  tandus  dan  kurang  air  permukaan,  di bagian  tengah  merupakan  cekungan Wonosari  yang  terbentuk menjadi Plato Wonosari. Wilayah pegunungan ini memiliki luas kurang lebih 1.656,25 km2 dengan ketinggian 150-700m. Selengkapnya data geografis dapat dilihat pada Tabel dan Gambar berikut ini.

Tabel Data Geografis Kabupaten Gunungkidul

Variabel Geografis

Angka

Luas Wilayah 1485,36 km2
LetakJumlah Musim
Curah hujan
Jumlah hari hujan
Suhu
Kelembaban rata-rata
7o 46’ –  8o 09’ LS
110o  21’ – 110o  BT
2 (kemarau – hujan)
1602 mm
103 hari
22o – 34o C
Tinggi

Peta-Administrasi

Gambar 2.1 : Peta Wilayah Kab. Gunungkidul

Wilayah Gunungkidul mempunyai potensi bencana alam,terutama berkaitan  dengan bahaya geologi yang meliputi :
– Gerakan tanah/batuan (longsor) dan erosi, berpotensi terjadi pada lereng  Pengunungan  Selatan  Gunungkidul (sering terjadi).
– Bahaya  kekeringan  berpotensi  terjadi  di wilayah  Kabupaten Gunungkidul bagian selatan, khususnya kawasan karst.
– Bahaya  tsunami,  berpotensi  di  pantai  selatan  Gunungkidul, khususnya pada elevasi kurang dari 30 m dpl.
– Bahaya gempa bumi tektonik berpotensi di tumbukan lempeng dasar Samudra Indonesia di sebelah selatan Gunungkidul.
– Bahaya angin puting beliung, berpotensi terjadi di seluruh wilayah Gunungkidul (sering terjadi)

Secara administratif wilayah di Kabupaten Gunungkidul terbagi menjadi 18 kecamatan, 144 desa. Wilayah terluas ada di Kecamatan Semanu yaitu 108,39km2 (7,3% luas Gunungkidul). Jarak Puskesmas ke ibukota Kabupaten rata-rata 15 Km, sedangkan jarak rata-rata ke ibukota Propinsi 55 Km. Selengkapnya dapat dilihat pada Tabel berikut ini.

No Puskesmas Kecamatan Luas Wilayah  (Km2) Jarak Ke Kab Jarak Ke Prop
1 Nglipar I Nglipar 32,68 11 50
2 Nglipar II 40,30 24 46
3 Gedangsari I Gedangsari 68,14 22 50
4 Gedangsari II 27 45
5 Patuk I Patuk 47,79 20 26
6 Patuk II 24,25 28 46
7 Rongkop Rongkop 95,47 35 70
8 Girisubo Girisubo 82,72 48 85
9 Ponjong I Ponjong 59,69 15 50
10 Ponjong II 44,78 23 58
11 Wonosari I Wonosari 44,44 3 40
12 Wonosari II 33,09 5 40
13 Karangmojo I Karangmojo 44,53 9 45
14 Karangmojo II 35,59 13 50
15 Panggang I Panggang 35,00 40 40
16 Panggang II 48,00 30 30
17 Purwosari Purwosari 59,34 48 40
18 Tepus I Tepus 57,84 22 58
19 Tepus II 49,85 32 65
20 Tanjungsari Tanjungsari 68,84 18 55
21 Paliyan Paliyan 66,94 16 40
22 Saptosari Saptosari 87,02 23 42
23 Ngawen I Ngawen 26,81 34 70
24 Ngawen II 13,78 59 40
25 Semanu I Semanu 55,61 7 45
26 Semanu II 52,78 10 50
27 Semin I Semin 24,32 24 60
28 Semin II 38,90 41 75
29 Playen I Playen 41,42 11 37
30 Playen II 63,84 16 37

Sumber : BPS Kabupaten Gunungkidul

2. Demografi
Jumlah penduduk Gunungkidul berdasar hasil Pendataan Keluarga (BPMPKB,2009) yang dilaksanakan setiap pertengahan adalah sejumlah 725.583 jiwa dengan perincian berdasar jenis kelamin adalah 355.877 jiwa  penduduk laki-laki dan 369.706 jiwa penduduk  perempuan (sex ratio 96,3). Kepadatan penduduk (Man Land Ratio) Kabupaten Gunungkidul sebesar 488,5/km² dengan rata-rata jiwa per-rumah tangga (family size) adalah 3.8 jiwa.

Tabel Indikator Kependudukan Kabupaten Gunungkidul

 

Variabel Kependudukan

2010

Jumlah Penduduk

725.583

  • Laki-laki

355.877

  • Perempuan

369.706

  • Balita (<5th)

43.360

  • Lansia  (> 60th)

110.499

Jumlah KK

192.172

Sex Ratio

96,3 %

Dependency Ratio

43,2%

Man Land Ratio/ km2

488.5 jiwa

Jumlah jiwa setiap rumah tangga

3.8 jiwa / rumah tangga

Laju Pertumbuhan Penduduk

0,99 %

Jiwa miskin (Jamkesmas)

340.635 jiwa

Sumber : Pendataan Keluarga BPMPKB dan BPS

Kelompok umur yang mendominasi adalah kelompok usia muda. Rasio beban tanggungan (dependency ratio) penduduk Kabupaten Gunungkidul sebesar  43,2% berarti setiap 43 orang penduduk usia produktif (umur 14–64 tahun ) menanggung 100 penduduk usia tidak produktif.

Jumlah kelahiran pada tahun 2010 tercatat 8.996 kelahiran atau meningkat dibanding tahun 2009 sejumlah 8,965 kelahiran. Tingkat Fertilitas Kasar (Crude Birth Rate) 12,39 kelahiran bayi per 1000 penduduk. Tingkat Fertilitas Umum (General Fertility Rate) 55 per 1000 wanita umur 15 – 49 tahun.

Jumlah penduduk menjadi sasaran dalam perencanaan maupun pelaksanaan program-program bidang kesehatan. Penduduk per-Puskesmas di Kabupaten Gunungkidul dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel Jumlah Penduduk Per-Wilayah Kerja Puskesmas Tahun 2010

Puskesmas Laki-laki Peremp. Jumlah Puskesmas Laki-laki Peremp. Jml
GEDANGSARI 19,609 19,955 39.564 PONJONG I 8,746 8,832 17.576
GIRISUBO 12,394 12,742 25.136 PONJONG II 17,495 18,076 35.571
KARANGMOJO I 13,041 14,193 27.234 PURWOSARI 9,768 10,444 20.212
KARANGMOJO II 11,756 12,28 24,036 RONGKOP 15,198 15,704 30.902
NGAWEN I 10,252 10,45 20,702 SAPTOSARI 18,823 19,317 38.140
NGAWEN II 5,995 6,126 12.121 SEMANU I 16,271 16,589 32.860
NGLIPAR I 7,034 7,804 14.838 SEMANU II 11,485 12,166 23.651
NGLIPAR II 8,606 9,181 17.787 SEMIN I 14,228 14,586 28.814
PALIYAN 15,251 15,907 31.158 SEMIN II 11,986 12,577 24.563
PANGGANG I 5,657 5,873 11.530 TANJUNGSARI 13,557 14,301 27.858
PANGGANG II 8,254 8,576 16.830 TEPUS I 6,583 7,277 13.860
PATUK I 8,092 8,402 16494 TEPUS II 11,519 11,892 23.411
PATUK II 7,767 7,968 15.735 WONOSARI I 14,147 14,803 28.950
PLAYEN I 12,605 12,942 25.547 WONOSARI II 24,596 25,239 49.835
PLAYEN II 15,051 15,615 30.666  JUMLAH 355,877 369,706 725,583

Sumber : Pendataan Keluarga BPMPKB

3. Sosial Budaya dan Agama
Budaya gotong-royong masih cukup tinggi pada hampir semua kelompok masyarakat baik di peedesaan maupun perkotaan. Budaya gotong royong sangat nampak ketika masyarakat kerja bakti untuk membangun wilayah desa atau membangun tempat tinggal.
Budaya ‘mboro’ ke kota untuk mencari pekerjaan sangat Nampak pada daerah-daerah tertentu terutama di pedesaan, sehingga pada musim lebaran akan banyak ditemui warga yang ‘mudik’ ke kampung halaman. Arus migrasi yang dijumpai cukup tinggi pada golongan usia produktif, terutama migrasi ke kota-kota besar (urbanisasi).

Mata pencaharian masyarakat yang agraris maka secara umum mereka juga akan memelihara ternak. Hanya saja sebagian penempatan kandang ternak dan peliharaan unggas sangat dekat bahkan menyatu dengan rumah induk, sehingga tidak memenuhi kriteria rumah sehat dan resiko penularan penyakit dari ternak/unggas yang dipelihara bisa terjadi. Budaya yang tidak sehat ini perlu menjadi perhatian, karena banyak hal yang melatarbelakangi.

Budaya pernikahan usia dini juga masih dijumpai di beberapa desa. Hal  ini masih merupakan budaya sekaligus menjadi kebanggaan bagi beberapa orangtua bila anak perempuan bisa menikah pada usia muda. Mereka kurang menyadari akan masalah yang bisa timbul yaitu adanya ibu hamil risiko tinggi (Bumil risti), rawan gizi, Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), aborsi, kematian ibu/bayi, dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Trend baru masyarakat adalah bergesernya pilihan moda transportasi darat dari angkutan umum ke kendaraan bermotor roda dua. Hal ini, bila tidak diikuti oleh perilaku berkendaraan yang tertib, maka diprediksi kecenderungan kejadian kecelakaan lalu lintas dari tahun ke tahun bisa meningkat. Hal ini akan berpengaruh pada angka kecacatan, kematian, dan memperberat beban pembiayaan kesehatan.

Agama yang dianut oleh penduduk di Kabupaten Gunungkidul terdiri dari Islam, Kristen, Katolik, Hindhu, Budha dan kepercayaan lain. Agama yang dianut sebagian besar penduduk adalah Islam (96,54%).

4.  Ekonomi
Berdasar Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2008 prosentase penduduk miskin di Kabupaten Gunungkidul sebesar 23,37%. Data dari Askes berdasarkan kuota penduduk miskin untuk Kabupaten Gunungkidul menyebutkan bahwa jumlah penduduk miskin pada tahun 2004 sebanyak 173.250 jiwa. Sedangkan berdasar data dari BPS tentang rumah tangga miskin di Gunungkidul pada tahun 2007  tercatat 95.722 rumah tangga miskin (RTM) atau 340.635 jiwa miskin. Data dari BPS tersebut telah dikuatkan dengan Keputusan Bupati dan  sampai tahun 2011 masih digunakan sebagai pedoman kuota peserta Jamkesmas.

peta gunungkidul

peta gunungkidul

Gambar PETA KEMISKINAN DI PROPINSI D.I. YOGYAKARTA (Sumber : BPS 2008)

Dibandingkan dengan Kabupaten lain di DIY, Kabupaten Gunungkidul mempunyai prosentase penduduk miskin yang terbesar. Kemiskinan yang dimaksud disini adalah ketidakmampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar, baik kebutuhan pangan maupun non pangan. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan salah satu pencerminan kemajuan perekonomian suatu daerah, yang didefinisikan sebagai keseluruhan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan dalam waktu satu tahun. PDRB atas dasar harga berlaku di Kabupaten Gunungkidul tahun 2008 sebesar 5.502.208 juta rupiah meningkat dibanding tahun 2007 sebesar 4.872.124 juta rupiah (PDRB/kapita tahun 2008 8.011.695 juta rupiah meningkat dibanding tahun 2007 7.110.408 juta rupiah) dengan kontribusi terbesar diberikan oleh sektor pertanian, kemudian disusul sektor jasa.

Kabupaten Gunungkidul memiliki jumlah  penduduk miskin  yang mendapat jaminan kesehatan terbesar di DIY, mencapai  60,9%  dari  total  penduduk. Kepesertaan Jaminan Kesehan Masyarakat (Jankesmas) sebanyak 340.635 jiwa, Jaminan Kesehatan Sosial (Jamkesos) untuk warga miskin sebanyak 83.000 jiwa. Untuk mengantisipasi masyarakat miskin yang belum mendapat Jaminan Kesehatan, maka Pemerintah Daerah  Gunungkidul menyediakan dana ‘bantuan pengobatan’ bagi pasien rawat inap yang amsih berlaku sampai dengan pertengahan tahun 2011. Syarat-syarat  tertentu diantaranya SKTM (surat Keterangan Tidak mampu) dari Pemerintah Desa setempat, rujukan berjenjang dan KTP serta kartu keluarga beserta rincian biaya perawatan di Rumah Sakit yang ditunjuk.  Dana tersebut disediakan dari Bansos APBD kabupaten, yang pelaksanaannya tetap menggunakan mekanisme APBD sehingga dipakai mekanisme. Reimbursement. Dalam perkembangannya, untuk membantu biaya kesehatan penduduk Kabupaten Gunungkidul, mulai pertengahan tahun 2011 telah dikembangkan Jaminan Kesehatan Semesta (Jamkesta).

Berkaitan dengan ekonomi dalam keluarga, hasil Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) di Gunungkidul menunjukkan bahwa perilaku penggunaan anggaran rumah tangga yang dialokasikan untuk kebutuhan konsumsi pangan sebesar 55.05% dan konsumsi bukan pangan sebesar 44.95%. Sedangkan dalam buku Gunungkidul dalam Angka yang terbaru yaitu tahun 2010, pengeluaran pangan 52.8% dan non pangan 47.2%. Hukum Engel menyatakan bahwa dengan meningkatnya tingkat pendapatan penduduk, maka porsi makanan akan semakin berkurang. Hasil tersebut menunjukkan masyarakat masih belum sejahtera, karena makin sejahtera masyarakat, konsumsi non pangan akan lebih tinggi dari konsumsi pangan.

Biaya pangan tersebut seperlimanya dibelanjakan untuk konsumsi jenis padi-padian. Pola pembelanjaan yang lebih cenderung untuk keperluan pangan disini mengindikasikan status ekonomi yang mesih rendah. Pola menu disajikan, dengan melihat perilaku pembelanjaan pangan tersebut cukup baik meskipun konsumsi proteinnya relatif kurang memadai. Dari hasil survey yang dilakukan di Kabupaten Gunungkidul untuk melihat perilaku penggunaan dana adalah seperti pada tabel berikut :

Tabel Konsumsi Pengeluaran Rumah Tangga Sebulan Lalu di Kabupaten Gunungkidul

Kelompok Pengeluaran

Rumah Tangga (Rp.)

1. Konsumsi pangan

592.614 (52.8%)

Padi-padian

101.189

Umbi-umbian

8.046

Ikan

16.801

Daging

22.334

Telur dan susu

31.456

Sayur-sayuran

61.625

Kacang-kacangan

33.619

Buah-buahan

21.860

Minyak dan lemak

39.501

Bahan minuman

32.207

Bumbu-bumbuan

10.904

Konsumsi lainnya

19.064

Makanan dan minuman jadi

154.227

Minuman yang mengandung alkohol

43

Tembakau dan sirih

39.738

2. Konsumsi bukan pangan

529.791 (47.2%)

Perumahan dan Fasilitas Rumah Tangga

224.844

Aneka barang dan jasa

107.031

Biaya Pendidikan

50.584

Biaya Kesehatan

25.894

Pakaian dan Sandang Lainnya

35.315

Barang tahan lama

72.857

Pajak, Iuran, dan Asuransi

13.266

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber Data : Gunungkidul Dalam Angka 2010

Konsumsi tembakau dan sirih masih cukup tinggi (6,7%) yang dipengaruhi oleh jumlah perokok. Konsumsi ikan masih rendah meskipun Kabupaten Gunungkidul berbatasan langsung dengan laut yang notabene merupakan penghasil ikan laut. Penggunaan dana untuk keperluan non pangan paling besar dialokasikan untuk pemenuhan fasilitas rumah tangga diikuti untuk keperluan barang dan jasa. Alokasi biaya kesehatan masih sangat minim dibandingkan dengan jenis konsumsi lain (1,92%), hal ini cukup memprihatinkan dan perlu untuk ditingkatkan.

Pengeluaran biaya pendidikan juga masih sangat rendah (1,71%). Dengan melihat pola konsumsi non pangan tersebut mengindikasikan bahwa upaya perubahan perilaku masih menjadi pekerjaan rumah besar untuk Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul pada saat ini.

5   Musim Dan Pola Penyakit
Wilayah Gunungkidul mempunyai dua musim yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Pola penyakit berhubungan dengan musim diantaranya adalah penyakit Demam Berdarah. Pola penyakit Demam  Berdarah pada musim penghujan tahun 2011 mengalami penurunan yang drastis dibanding tahun 2010 dengan insidens penyakit DB yang cukup tinggi di banding dengan tahun-tahun sebelumnya. Kejadian kasus DBD banyak terjangkit pada musim penghujan yaitu pada akhir tahun dan awal tahun berikutnya. Kenaikan bermakna pada hamper tiap tahun biasanya  terjadi pada bulan Januari dimana bulan tersebut terjadi banyak hujan. Berdasar waktu, maka antara bulan Desember sampai dengan bulan April merupakan bulan yang banyak terjadi kasus DBD sehingga pada masa ini perlu diwaspadai terjadinya KLB.

Penyakit yang berkaitan dengan musim selain DBD adalah Diare. Bulan yang harus diwaspadai terjadi kasus diare di kabupaten Gunungkidul yaitu bulan Januari, Nopember dan Desember. Dengan demikian, kasus Diare ternyata juga berhubungan dengan adanya musim penghujan. Kasus penyakit Diare juga sangat erat dengan lingkungan serta perilaku, sehingga selain berkaitan dengan musim, timbulnya kasus Diare juga  bisa dikaitkan dengan pola asuh anak dalam keluarga, higiene sanitasi misalnya : kebiasaan cuci tangan pakai sabun sebelum makan dan ketahanan tubuh (diare karena rotavirus).

Penyakit kulit terutama Dermatitis Kontak Alergi juga banyak menyerang penduduk di Kabupaten Gunungkidul, sehingga penyakit kulit hamper setiap tahun berada pada diantara rangking sepuluh besar penyakit. Penyakit kulit menyerang berbagai umur dan banyaknya kasus tidak begitu banyak berpengaruh terhadap musim. Demikian juga penyakit kulit karena jamur dan bakteri/virus (scabies) masih dijumpai.

nf